Tampilkan postingan dengan label roni lantang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roni lantang. Tampilkan semua postingan
Senin, 20 Februari 2017
Minggu, 29 November 2015
Rabu, 19 Desember 2012
Bunga-Bunga Impian: Respon Seni untuk Alam
Bunga-Bunga Impian: Respon Seni untuk Alam
Mike Susanto
2011
International Cultural Centre (ICC) merupakan sebuah ruang pamer yang menekankan hubungan alam dan budaya. Ruang yang dimiliki berupa dataran yang landai dan berbukit, danau air yang tenang, serta beratmosfir hawa sejuk, serta gunung ibarat kanvas yang menantang. Hijau pepohonan dan jalan setapak bebatuan adalah media pembebasan bagi seniman untuk tidak melupakan kebutuhan manusia atas alam. Kolam ikan dan kolam renang, amphitheater, dinding gedung yang menjulang, dan sarana rekreasi lain adalah arsitektur yang membentuk imaji mengenai ruang. Singkatnya, ruang berupa alam terbuka mengundang semua untuk mengisi dengan segenap interpretasi dan makna.
Ruang terbuka tidak saja sebagai tempat, namun juga menyimpan sejuta konsep yang tak mungkin terbendung oleh pikiran manusia. Sangat tidak mungkin Tuhan menciptakan ruang sebatas yang kita lihat. Dunia adalah ruang yang dibatasi “tembok” imajiner, sedang ruang di luar imajinasi kita adalah ketakberhinggaan. Lalu mampukah manusia menghadirkan karya-karyanya sebagai bagian ruang antara tersebut? Alam, manusia dan kultur adalah jawabnya.
Pameran ini berkeinginan mengetengahkan pergulatan para perupa dalam mengeksplorasi keberadaan manusia itu sendiri, merespons alam, dengan median seni rupa. Trinitas atau hubungan manusia, alam, dan seni hendak ditawarkan sebagai sebuah jawaban untuk mengantisipasi ketidak-tahuan dan ketamakan manusia, maupun segala persoalan yang kini kerap mendera kehidupan alam kita. Pada prinsipnya, pameran ini hendak memberi nilai-nilai yang bermakna dari sekadar keindahan yang telah ditawarkan oleh alam sekitar kita, khususnya lingkungan ICC. Seni dalam hal ini bukan sebagai penghias saja, akan tetapi juga menjadi elemen yang bermakna bagi pikiran dan kesadaran manusia.
Anda sebagai penonton akan disuguhi dengan sejumlah karya seni, tepatnya seni patung. Karya-karya yang diikutsertakan merupakan pengembangan dari seni patung konvensional. Para perupa yang diundang merasa bahwa lahan yang ada di ICC sangat mencukupi untuk menggerakkan kesadaran manusia dalam melihat kasus-kasus maupun persoalan-persoalan di ruang yang lain. Artinya ICC adalah sebuah laboratorium kecil dengan berbagai keunikannya. Sedangkan karya seni yang disertakan tentu saja tidak hanya bersifat kuat, tahan panas, dingin, hujan, debu, akan tetapi juga bersifat menyatukan gagasan mengenai nilai estetik, kesadaran akan alam, dan respon simbolis tentang isu-isu kontekstual.
Dalam perspektif umum, ruang yang dapat diinterpretasi dalam beberapa hal: Pertama, ruang sebagai materi; tempat; lokus; dimana ruang dianggap hanyalah sebagai wadah untuk ditempati oleh elemen, objek, atau benda apapun tanpa memperhitungkan kebermaknaan sebagai hal utama. Kedua, ruang sebagai konsep visual atau sebagai immaterialisasi bentuk, artinya ruang tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang besar atau tak berhingga. Ruang dalam perspektif ini “disederhanakan” dengan kata pengganti yang unik dan khas, seperti sebuah benteng kuno sebagai bangun sederhana: bujur sangkar, atau dunia sebagai bola dan sebagainya. Ide ruang semacam ini berasal dari usulan dari ide Hegel yang telah diaplikasi oleh para pelukis abstrak seperti Piet Mondrian.
Ketiga, ruang sebagai inspirasi. Dalam konteks ini ruang adalah alam itu sendiri. Segala hal yang ada dalam sebuah ruang yang berbatas maupun yang tak berbatas dapat menjadi sumber ide, meskipun ruang tersebut tidak dipakai sebagai bagian atau elemen yang bersifat materialistik dalam sebuah karya. Ia berperan sebagai sebuah objek. Keempat, ruang sebagai dimensi. Sebagai sebuah wujud, ruang sering dimanifestasi untuk berbagai keperluan: dua dimensi, tiga dimensi, dan empat dimensi. Dengan adanya model dimensi, seniman maupun pengunjung tidak hanya memiliki sudut pandang yang sama, tunggal, dan sempit. Ruang sebagai dimensi menawarkan “rekreasi” perspektif yang dalam dan mengejutkan.
Keempat hal mengenai ruang yang tertera di atas adalah bagian dalam pameran ini. Pembaca dapat melihat bahwa karya-karya yang tersaji dalam pameran ini merupakan karya yang bersifat multipersepsi, bahkan pada konsep ruangnya. Beberapa karya seni patung yang dipamerkan menyingkap tabir ruang yang hanya sebagai wadah (seperti karya Dunadi, Desrat, Ono Gaf, dan Yoga) maupun karya yang menyebabkan ruang sebagai konsep simbolik (seperti pada karya Ismanto dan Upadana).
Sebagian besar karya yang dipamerkan tersaji dalam beberapa bentuk teknik. Sebagian besar berupa karya seni patung yang berbasis kerja merangkai benda-benda temuan (seperti pada karya Fransgupita, Ismanto, Lutse, Ono, dan Saroni), patung-patung cor (seperti pada karya Hedi, Syahrizal Koto, Dunadi, Wayan Upadana, dan Desrat), maupun “karya patung” berupa benda alam (seperti karya Wayan Sujana dan Yoga Budhi). Sehingga tampak bahwa variasi teknik dan bahan dalam pameran luar ruang amat kental. Semoga sajian semacam ini dapat menginspirasi pemikiran tentang kajian seni patung dewasa ini.
Setidaknya para penonton dapat menikmati sajian ini sebagai refleksi atas berbagai kejadian baik yang dialaminya sendiri maupun dialami orang atau sekelompok lainnya. Seni patung yang dipamerkan hanyalah perantara awal, sebagai pemicu gagasan dan interpretasi terhadap sejumlah hal besar yang kita hadapi sebagai bagian dari masyarakat dunia. Intinya, dari alam kita mengambil nilai-nilai. Alamlah selama ini yang menjadi bunga impian, di tengah mimpi-mimpi kelam tentang berbagai tingkah manusia yang merusaknya. +++
Teks per perupa, dalam katalog diletakkan bersanding pada setiap karya perupa:
- 1. Desrat Fianda
- 2.Dunadi
- 3.Fransgupita
- 4. Hedi Hariyanto
- 5. Ismanto Wahyudi
- 6. Lutse Lambert
- 7. Ono Gaf
- Saroni
- 9. Syahrizal Koto
- 10. Wayan Sujana Suklu
- 11. Wayan Upadana
- 12. Yoga Budhi Wantoro
Rabu, 02 Maret 2011
Kamis, 24 Februari 2011
BIODATA SARONI
CV
Biodata
Nama : Saroni
Tempat tanggal lahir : Jepara, 21 April 1973
Jenis kelamin : Laki-laki
Golongan darah : A
Tinggi/berat badan : 160Cm/50Kg
Pendidikan : Institut Seni Yogyakarta ( ISI ), Fakultas Seni Rupa ( FSR ), Jurusan Seni Murni,
Minat Utama Seni Patung
E-mail : ronilantang@gmail.com
Facebook : roni.lantang.1
Hp : 082 220 579 945
Aktivitas Pameran
2018
- Nandur srawung #5 " bebrayan" di taman budaya yogyakarta
- Undagi #2 di taman budaya yogyakarta
- Kembulan di studio kalahan yogyakarta
- Kuntul baris di serupa art space jepara
2017
- Inside outside di damara and coffee bar kaliurang yogyakarta
- Distorsi harmoni #2 di rumah adat kemojan karimunjawa jepara
2016
- Distorsi harmoni di serupa art space jepara
2015
- geneng street art project #3, loh jinawi, di galeri Katamsi ISI Yogyakarta
- Jakrta biennale #14, maximum city, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta
- outdoor sculpture, bunga-bunga impian-respon seni untuk alam, di ICC Pandaan, Jawa Timur
- Invasion in Fashion, Go Art Space, Surabaya
- Festifal Seni Islami, di Jogja Nasional Museum ( JNM ), Yogyakarta
- Speak Of, di Jogja Nasional Museum ( JNM ), Yogyakarta
- The Age of Restlessness, di Nort Art space, Jakarta
2010
- JOGJA GUMREGAH! JOGJA BANGKIT! di Jogja Nasional Museum, Yogyakarta
- ICC Pandaan Young Sculplture Competition, di Pandaan, Jawa Timur
- Jepara Merupa, di Musium Kartini Jepara
- ORDE PERUT, pameran Tugas Akhir di Gedung Seni Murni Fakultas Seni Rupa
2009
- September Ceria, di Jogja Gallerry, Yogyakarta
- UP & HOPE, di Depeak Art Space Jakarta
- Isiotherapy #2, di Benteng Vredeburg, Yogyakarta
- POLI[CHROMATIC] di Bentara Budaya, Yogyakarta
- Guru Oemar Bakri, di Jogja Gallery, Yogyakarta
- Bersama dalam Ruang Komposisi, di Joglo Art Societes, Yogyakarta
2008
- The Highlight dari Medium ke Trans Media, di JNM, Yogyakarta
- Academic Art Award #2 di Jgja Gallery, Yogyakarta dan Neka Art Museum Bali
- Versus #1, di Galeri 678, Jakarta
- Indonesia Art Award di Galeri Nasional, Jakarta
2007
- Neo Nation , Biennale Jogja IX, di Sangkring Art Space, Yogyakarta
- Academic Art Award #1, di Jogja Gallery, Yogyakarta
- Harlah Asri ke 57, di Benteng Vredeburg, Yogyakarta
- Rupa-Rupa Sclpture di Balai Roepa Tembi, Yogyakarta
- Home Sweet Home, di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta
2006
- Young Arrows, 40 seniman muda terdepan di Jogja Gallery, Yogyakarta
- Enjoy sculpture di galeri Katamsi ISI, Yogyakarta
- Pengadilan Rakyat di Galeri ISI, Yogyakarta
- Rica ri Cari Sculpture di Student centre UNS, Solo
2005
- Festival Kesenian Indonesia (FKI) di STSI, Bandung
- Dies Natalis ISI Yogyakarta ke XXI di Galeri ISI Yogyakarta
- Menyelamatkan alun-alun dengan Cinta,di Taman Budaya Yogyakarta
2003
- Jepara Merupa, di Musium Kartini Jepara
- Transmisi II, di gedung serba guna RA. Kartini Jepara
2002
- Transmisi I, di gedung serba guna RA. Kartini Jepara
- Di bawah Tiang Bendera, Refleksi Sumpah Pemuda, di Alun-alun Jepara
- Menjemput tahun tanpa kekerasan, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta
RESIDENSI
2010
- Residensi di North Art Space, Pasar Seni Ancol, Jakarta
WORKSHOP
2017
- Workshop dangkel pring Tuk Songo - Suwawal Timur - Pakis Aji - Jepara
2009
- Instruktur worshop, Bermain Bentuk dengan Tanah Liat, bersama anak-anak Kali Urang
- peserta workshop, Home Sweet Home, di ISI Yogyakarta
- Workshop bersama Pintor Sirait, di ISI Yogyakarta
- Instruktur worshop Seni Ukir, dalam acara Jambore Nasional di Prambanan Klaten
- Instruktur worshop Seni Ukir, dalam acara Jambore Nasional di Batu Raden, Jawa Tengah
- Iinstruktur Worshop Seni Ukir, dalam acara Pertiwana Nasional, di Sreni, Jepara
Penghargaan
2010
- finalis ICC Pandaan Young Scuplture Competition
- finalis Indonesia Art Award
- finalis Academic Art Award #1
- Karya terbaik seni patung, Dies Natalis ISI Yogyakarta ke XXI-2005
Langganan:
Postingan (Atom)
































