Jumat, 30 Maret 2012

Guy Laramée




Carved book landscapes by the montreal based artist Guy Laramée.








Artist Statement
The erosion of cultures – and of “culture” as a whole - is the theme that runs through the last 25 years of my artistic practice. Cultures emerge, become obsolete, and are replaced by new ones. With the vanishing of cultures, some people are displaced and destroyed. We are currently told that the paper book is bound to die. The library, as a place, is finished. One might ask so what? Do we really believe that “new technologies” will change anything concerning our existential dilemma, our human condition? And even if we could change the content of all the books on earth, would this change anything in relation to the domination of analytical knowledge over intuitive knowledge? What is it in ourselves that insists on grabbing, on casting the flow of experience into concepts?
When I was younger, I was very upset with the ideologies of progress. I wanted to destroy them by showing that we are still primitives. I had the profound intuition that as a species, we had not evolved that much. Now I see that our belief in progress stems from our fascination with the content of consciousness. Despite appearances, our current obsession for changing the forms in which we access culture is but a manifestation of this fascination.
My work, in 3D as well as in painting, originates from the very idea that ultimate knowledge could very well be an erosion instead of an accumulation. The title of one of my pieces is “ All Ideas Look Alike”. Contemporary art seems to have forgotten that there is an exterior to the intellect. I want to examine thinking, not only “what” we think, but “that” we think.
So I carve landscapes out of books and I paint romantic landscapes. Mountains of disused knowledge return to what they really are: mountains. They erode a bit more and they become hills. Then they flatten and become fields where apparently nothing is happening. Piles of obsolete encyclopedias return to that which does not need to say anything, that which simply IS. Fogs and clouds erase everything we know, everything we think we are.
After 30 years of practice, the only thing I still wish my art to do is this: to project us into this thick “cloud of unknowing.”
Full interview here
http://guylaramee.com/

Kamis, 19 Januari 2012

Bandung yang Terbuka

Laporan 2011


Masih segar dalam ingatan, ketika beberapa tahun ke belakang banyak pameran yang menggunakan

kata ‘Bandung’ sebagai tajuk. Petisi Bandung, Bandung Initiative, dan Bandung Art Now adalah beberapa

di antaranya. Sebagian beranggapan bahwa hal tersebut merupakan propaganda untuk terus bersaing

dengan Yogyakarta, sebagian berkata jika itu hanyalah branding di tengah pasar seni rupa yang sedang

booming, dan sebagian menyebut itu adalah penanda akan seni rupa Bandung yang baru.

Mana yang paling benar? Masing-masing punya argumentasinya. Tapi yang jelas, memang ada

yang baru di seni rupa Bandung dekade 2000-an. Sesuatu yang disebut “seniman paska kekongkretan”

oleh Aminuddin TH Siregar . Istilah yang beliau gunakan untuk menggambarkan generasi baru seniman

(Aminuddin TH Siregar, Catatan Kuratorial Pameran Tunggal Budi Adi Nugroho, Toys With Semionaut Soup, GaleriSoemardja, 2011).

Bandung yang tidak memerlukan perlawanan terhadap suatu hierarki atau hegemoni. Ketika dosen-

dosen yang mengajarkan mereka di ITB memberikan toleransi yang luas terhadap proses penciptaan

karya.

Akhirnya Bandung bisa melukis realis, membuat drawing, instalasi video, atau mencipta patung

resin dalam bentuk-bentuk representatif. Kebetulan, pasar menggandrungi karya seperti itu di saat yang

sama. Karya-karya yang dihasilkanpun banyak terserap dalam berbagai pameran. Seni rupa Bandung

menjadi bagian penting dari bubble yang menggelembung di medan seni Indonesia pada paruh ke-dua

dekade kemarin.

Kini situasi telah berganti, banyak yang percaya jika bubble itu telah pecah. Sepanjang tahun

2011, tidak sedikit galeri yang mengatakan bahwa mereka sulit menjual karya. Tidak lagi mudah

mempromosikan nama-nama baru, atau bahkan seniman yang sempat laku di masa boom. Kondisi

itu tak pelak telah mempengaruhi praktik seni rupa di Bandung. Akan tetapi, dinamika yang ada terus

berjalan membentuk medan seni yang ada.

Saya mencatat, ada dua gejala yang patut diperhatikan di Bandung pada tahun 2011. Pertama

adalah ketika seniman muda lulusan UPI(Universitas Pendidikan Indonesia) makin aktif di medan seni

rupa. Setelah menempatkan dua alumninya sebagai juara di dua kompetisi yang berbeda dua tahun lalu,

yakni Erwin Windu Pranata di Biennale Indonesia Art Award dan Evan Driyananda di Bazaar Art Award

2010, pada tahun 2011 kemarin banyak lulusannya yang terus aktif berpameran. Lihat Muhammad

Akbar yang memantapkan eksitensinya sebagai seniman new media arts dengan banyak pameran yang

diikutinya sepanjang tahun. Kemudian ada pameran tunggal dari Mufti Priyanka di galeri Padi Artground

yang menyedot banyak perhatian, baik dari pengunjung maupun dari media. Lihat juga pameran

retrospektif alm. Andry Mochammad yang digadang-gadang telah mendatangkan pengunjung terbanyak

di galeri Soemardja sepanjang tahun 2011. Seorang dosen mengatakan bahwa pada malam pembukaan,

galeri kampus yang tidak terlalu besar itu disesaki hampir 1000 orang. Begitu juga diskusinya yang

berlangsung ramai. Terakhir, ada nama Rudayat yang terpilih untuk mengikuti residensi di Selasar

Sunaryo Art Space(SSAS) bersama I Made Wiguna Valassara dan Gatot Pudjiarto. Gejala ini dilihat

banyak pihak sebagai hal positif yang akan memperkaya seni rupa Bandung itu sendiri.

Gejala selanjutnya adalah ketika seniman papan atas asal Bandung jarang berpameran di kotanya

sendiri. Saya mencatat, hanya Budi Adi Nugroho dan Henrycus Napitsunargo yang berpameran tunggal,

masing-masing di galeri Soemardja dan Platform3. Yang lain lebih banyak melakukan pameran tunggal

maupun bersama di kota lain dan luar negeri. Tisna Sanjaya misalnya, berpameran tunggal di Singapore

Art Museum pada bulan Februari-Maret 2011. Meneropong ke awal tahun, ada Singapore Art Stage

yang dijadikan ajang pameran bagi banyak perupa Bandung. Wiyoga Muhardanto dan Radi Arwinda

berpameran tunggal, lalu Agung Fitriana, Syagini Ratnawulan, Cecep M. Taufik, Ferry Widiantoro, Erik

Pauhrizi, Tromarama, dan beberapa nama lainnya melakukan pameran bersama di sana. Ajang Art Fair

tampaknya sering dijadikan tempat presentasi karya terbaru para seniman. Dalam Art HongKong, SH

Contemporary, BAJ, Art Jog, dan KIAF 2011, beberapa nama di atas kerap muncul kembali di beberapa

booth.

Galeri asal Kuala Lumpur Malaysia, Valentine Wilie Fine Art (VWFA) mengundang 4 seniman

Bandung untuk berpameran tunggal di sana pada tahun kemarin. Mereka adalah Ay Tjoe Christine,

Cinanti Astria Johansyah, Yogie Ahmad Ginanjar, dan Albert Yonathan Setiawan. Selain itu, ada juga

galeri asal Taipei, Michael Ku, yang mempresentasikan pameran tunggal dari JA Pramuhendra. Nama

terakhir juga terlibat dalam proyek pameran Luis Vuitton di Paris, Prancis pada pertengahan tahun

lalu. Menilik perupa Bandung yang lebih senior, ada karya-karya termutakhir dari Sunaryo dan Srihadi

Sudarsono yang dipamerkan di Galeri Canna pada bulan November-Desember.

Dari kota Bandung sendiri, dapat dikatakan bahwa tidak ada kegiatan seni rupa skala besar

pada tahun kemarin. Tidak seperti tahun 2010 ketika ada rangkaian pameran serta diskusi “Sang

Ahli Gambar(Soedjojono) dan Kawan-kawan,” dan Pasar Seni ITB. Atau ajang seperti The 22nd Asian

International Art Exhibition(AIAE) 2007 dimana kota ini menjadi tuan rumah. Pada tahun lalu, AIAE ke-

26 itu sendiri berlangsung di kota Seoul, Korea Selatan, dimana sejumlah perupa Bandung mewakili

Indonesia dalam partisipasinya di sana. Mereka antara lain Setiawan Sabana, Tisna Sanjaya, Deden H

Durrahman, Dadan Setiawan, Yudi AB, dan Patra Aditya.

Perihal Internasionalisasi di atas, hemat saya, memiliki dampak positif dan negatif secara

bersamaan. Di sisi pertama adalah terbukanya apresiasi secara lebih luas bagi seni rupa kontemporer

Bandung, baik dari segi wacana maupun ekonomi. Hal itu juga merupakan penanda eksistensi seni

rupa kota kembang ini di medan seni rupa nasional maupun global. Namun sayangnya, aktifnya perupa

Bandung berkiprah di luar tidak diimbangi dengan pameran di dalam kota tempat tinggalnya. Hal itu

membuat publik seni Bandung kurang memiliki kesempatan mengapresiasi karya-karya terbaik mereka.

Kontras dengan fakta tersebut, publik seni Bandung justru banyak disuguhi pameran dari pihak

lain sepanjang tahun 2011. Ada Jompet dan AT Sitompul yang berpameran tunggal di SSAS, sedangkan

M Irfan memilih melakukannya di Galeri Soemardja. Selain itu, ada pameran fotografi dari pusat-

pusat kebudayaan mancanegara yang juga berlangsung di galeri kampus ITB tersebut. Kemudian ada

pameran “Tanah Ayer” yang merupakan presentasi khusus seni rupa kontemporer Malaysia di SSAS. Di

penghujung tahun, dilangsungkan kegiatan bertajuk Videosonic #2 : The Spectacles hasil kerjasama tiga

institusi, yaitu SSAS, Studio Intermedia FSRD ITB, dan Filmklasse HBK Braunschweig, Jerman. Acara yang

dilakukan adalah kegiatan seminar, workshop dan screening video art dari para seniman yang terlibat.

BaCAA #1 yang diselenggarakan di Lawangwangi Arts and Sciences Center bulan April lalu juga

jangan dilupakan. Di luar segala pro dan kontra-nya, kompetisi bertajuk Bandung Contemporary Art

Awards itu telah menghasilkan 4 pemenang dari 4 kota yang berbeda, yaitu Jakarta, Bandung, Solo, dan

Yogyakarta.

Walaupun tidak ada biennale atau artfair yang menggunakan namanya, Bandung telah menjadi

sebuah open discursive field bagi seni rupa kontemporer Indonesia dan mancanegara. Ketika yang

berkiprah di sana bukan lagi praktisi asal Bandung semata. Kota ini tidak hanya memproduksi seniman,

kurator, dan praktisi seni lainnya, tapi juga menyediakan arena bagi seni rupa kontemporer untuk terus

berkembang.

Patriot Mukmin, Desember 2011.


*tulisan ini sudah dipublikasikan di Visual Art

Senin, 16 Januari 2012

JAKARTA BIENNALE XIV 2011: "Survive or Escape?"



www.dkj.or.id

JAKARTA BIENNALE XIV 2011: "Survive or Escape?"
Jakarta Biennale XIV 2011 akan kembali hadir akhir tahun ini. "Jakarta Maximum City: 'Survive' or 'Escape'?dipilih sebagai tema besar perhelatan akbar seni rupa dua tahunan itu. Mendukung perhelatan tersebut, Dewan Kesenian Jakarta menurunkan seri tulisan mengenai Jakarta Biennale XIV.
Dinamika kota menjadi inspirasi  para pengamat pilihan kurator Jakarta Biennale 2011; Bambang Asrini Widjanarko, Ilham Khoiri dan Seno Joko Suyono. Dan ‘maximum city’ menjadi pilihan judul.

Tarik menarik yang terjadi antara berbagai kepentingan sosial ekonomi dan budaya menjadikan kota Jakarta menjadi penuh paradoks, pernah dibahas dan menjadi dasar pemikiran bagi Jakarta Biennale XIII, 2009 yang lalu; saat Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) penyelenggara Jakarta Biennale (JB), menganggap situasi Jakarta dapat  dinyatakan sebagai AreNa [1], satu ruang yang menjadi tempat perebutan dan pertarungan berbagai kepentingan.

Namun meski tetap diinspirasikan dari kota, kurator JB XIV melakukan pendekatan yang berbeda, Jakarta ditengarai dengan cirinya yang terus tumbuh menjadi penuh, maximum. Serta sikap penghuninya yang cenderung untuk escape dan survive, untuk melakukan ‘pelarian’ atau ‘berhasil lolos’ dalam dinamika Jakarta.  Kedua kata yang menjadi subjudul, walau berseberangan arti secara harafiah namun bisa diartikan sama bila melihat dengan kritis. Ada ambiguitas dari situasi yang paradoks.

Dari situasi dan gejala ini para kurator; Bambang Asrini Wijanarko, penulis seni rupa, Ilham Khoiri wartawan harian Kompas dan Seno Joko Suyono dari majalah Tempo, menengarai adanya cara cara megekspresikan diri dan berkesenian yang khas dan melalui pendekatan kuratorial akan tampak  bentuk bentuk kerja dan karya seni ini, yang  akan dihadirkan kembali bagi masyarakat luas penghuninya, dari semua kalangan.

The Maximum City: Provokasi Estetika Urban
Di mata para kurator, melalui pengamatan dan studi  Jakarta dianggap sebagai kota yang sesak (the maximum city). Penghuni kota Jakarta saat pulang kantor dikendaraan umum ataupun pribadi, dihunian baik di pusat maupun  4 wilayah kota yang lain tentu tidak banyak bertanya saat mendengar kota yang maximum. Serba penuh dan cenderung tumpah.

Namun berbeda dengan Mumbay [2] kota tempat penamaan maximum city itu berasal. Jakarta meski sama sama tumbuh dan menjadi penuh dan melebihi kapasitas,  memiliki berbagai persoalan yang menyajikan fenomena menarik, terutama karena hadirnya bermacam paradoks yang walau dikotomis tetapi kompromistis. Dalam arti, banyak hal yang sebenarnya bertentangan, tetapi ternyata bisa hidup bersamaan, bahkan berdampingan, di kota ini. Budaya kampung yang bisa berdiri sejajar dengan budaya kota. Warga kaya di gedung mewah hidup bersebelahan dengan kaum miskin di tenda-tenda kumuh pinggir sungai. Budaya modern-rasional berdiri sejajar dengan yang tradisional-mistis. Begitu pula antara semangat komunal dan individual, paham sektarian-fundamentalis dan multikultursalis-liberalis, atau kesumpekan kawasan miskin dan kota-kota mandiri yang ditata nyaman. Kenyataan akan situasi yang dikotomis dan antagonistis, namun  sering hidup berdampingan dan seolah mengambil keuntungan dari situasi yang ada .

Bergelut dengan paradoks Jakarta, niscaya  bakal menemukan cara pandang berbeda tentang kehidupan. Paradoks kerap menghadirkan jurang (disparitas) yang dalam antara satu kutub dengan kutub lain yang bertentangan.

Disparitas yang menunjukkan  ketegangan tetapi sekaligus  dinamika  urban di kota, yang menjadi sumber kajian-kajian seni-budaya, dan inspirasi bagi  para seniman  berkreasi seni. Selain disparitas fisik material yang diisi oleh disparitas budaya yang sesungguhnya kontrovesial, misalnya orang kaya baru dengan budaya kampung dan orang baru (setengah) miskin dengan budaya kota, semua kenyataan kenyataan yang menambah kompleksitas kehidupan. Karenanya sebagai inspirasi, kota (dengan segala paradoksnya) adalah sumber provokasi yang menjanjikan ketidakterdugaan dalam karya seni rupa, terutama seni kontemporer dengan estetika urban.

Kecenderungan kegiatan dan pernyataan seni(rupa) di kota besar seperti Jakarta  di mana  bidang-bidang yang sebelumnya tidaklah dinyatakan sebagai bentuk senirupa (yang unggul), menjadi salah satu ciri.

Tidak urung pada perhelatan kali ini selain karya-karya para seniman, maka karya karya perancang grafis,  pecipta mainan, perancang busana dan disain yang lain menjadi menaraik dan penting ut dihadirkan sebagai karya seni.Hal yang tentunya akan menjadi pertanyaan bagi banyak pecinta seni, namun mungkin tidak demikian bagi masyarakat umum yang telah lama menikmati karya karya popular ini sebagai satu hal yang indah sekaligus bermanfaat.
Cair tetapi tetap tidak menyatunya berbagai unsur yang ada sebagai air dan minyak yang saling mendesak dalam kepadatan kota. Perbedaan antara seni yang dihadirkan diruang publik dan galeri, yang seolah diterima tetapi tidak saat menghadapi pasar. Begitu juga saat membicarakan mana yang lebih ‘jujur’ dan dapat dinyatakan sebagai pernyataan seni, ketegangan kembali terjadi.

Namun diatas segalanya seni rupa urban sendiri kini menjadi tren global. Para seniman yang umumnya hidup di tengah kota, menyerap dinamika serta berbagai masalahnya, dan menyajikannya dalam bahasa visual terkini  berdasarkan khazanah seni rupa yang melingkupinya. Tak terpaku dengan ruang-ruang galeri, seni jenis ini sudah melebar masuk ruang-ruang publik kota sehingga sebagian termasuk seni jalanan (street art).

Seni kemudian punya semangat melebur dalam denyut kehidupan masyarakat. Seni bukan lagi sesuatu yang sudah selesai, tetapi juga sebuah proses. Penyajiannya cenderung lintas media, memadukan teknologi terkini, dan bersifat interaktif. Sebagian seniman bergerak dengan basis komunitas. Dan kehadirnannya bukan semata mata untuk menghadirkan karya seni, tetapi lebih pada pernyataan akan kehadirannya di satu kota sebagai, individu ataupun kelompok. Tidak ada yang ingin dimarjinalkan dikota besar, yang di mana-mana mendengungkan kata be your self atau you are special tetapi sekaligus menghadirkan budaya masa yang menghilangkan satu orang dalam kerumuman masa. Kembali satu paradoks.

Walau  situasi mutakhir Jakarta ada di kota-kota besar lain di Asia Tenggara seperti Manila, Bangkok, Singapura, Ho Chi Minh, Pnom Penh. Namun para kurator menganggap problem kota Jakarta yang sesak ini berbeda dan memiliki ciri khas yang akan menarik untuk direfleksikan dalam perhelatan seni rupa Jakarta Biennale 2011. Setidak tidaknya lahir pertanyaan; apakah ‘Maximum City’ di Jakarta berkonotasi positif atau negatif?

Lima sub Tema
Tentunya Biennale seni rupa, merupakan tolok ukur dari perkembangan seni rupa yang sedang berlangsung. Ia bersifat independen dan mengacu kepada standar kualitas tertentu. Melalui biennale seni rupa, DKJ mencoba memberikan pernyataan kepada publik tentang situasi mutakhir perkembangan seni rupa Indonesia, terutama terkait dengan perkembangan seni rupa dunia. Biennale juga menjadi salah satu cara kita untuk mengenali tren-tren terbaru seni rupa dan pemikiran-pemikiran yang berkembang di sekitarnya.

DKJ telah menyelenggarakan biennale seni rupa sejak 1974 sebagai ajang pameran besar seni rupa dua tahunan. Untuk kali pertama kegiatan Biennale bertajuk “Pameran Senilukis Indonesia”. Kemudian berubah menjadi “Pameran Besar Senilukis Indonesia” (1976, 1978, 1980), lalu menjadi “Pameran Biennale” (1982), dan “Biennale” (1984, 1987, 1989, 1993—1994, 1996, 1998, 2006). Terutama pada 1993-1994, kata “senirupa” sempat menjadi keterangan judul. Sebelum dan sesudahnya memakai kata “senilukis” atau “lukisan”. Sejak 2009 menjadi “Jakarta Biennale”, tanpa embel-embel “pameran” dan “kompetisi” dan mulai berskala internasional—meskipun cikal-bakalnya sudah dimulai sejak Biennale Jakarta XII 2006.

Jakarta Biennale XIV 2011 mengangkat tema besar “Maximum City: Survive or Escape?” Dengan tema ini, kurator  selain memilih karya-karya yang diinspirasikan oleh hal diatas,  mengajak para seniman untuk merespon fenomena ‘sesak’ Kota Jakarta. Sebab di saat yang bersamaan masyarakat Jakarta juga menempuh jalannya sendiri dalam mencoba bertahan atau malah kabur dari semua kesesakan ini. Dari tema besar ini kurator  membagi karya-karya ke dalam lima sub tema, yaitu: Violence and Resistance;  Narcisism, Voyeurism, and Body;  Game, Leisure, and Gadget Victim;  Metro-Text Seductions; dan Citizen and Homo Ludens.

Kelima tema ini dianggap  merupakan problem yang cocok untuk dan telah menjadi bahan refleksi dan ruang saluran bagi potensi-potensi radikal estetika urban. Dari situasi ini para perupa telah dan diharapkan akan menampilkan berbagai karya-karya yang bertumpu pada  kekuatan ide-ide yang subversif  dan juga kekayaan eksplorasi bentuk berbagai medium, dan meluas ke masyarakat.

Violence and Resistance
Refleksi provokatif dan berani fenomena tentang kekerasan dan daya tahan manusia urban. Kehidupan metropolitan yang penuh persaingan dan kompetisi.  Diperlukan stamina yang kuat untuk tinggal di Jakarta. Kemacetan, krisis air bersih, harga perumahan  yang mahal, banjir, demonstrasi harus dihadapi sehari-hari.
  
Di mana-mana juga terjadi ancaman kriminalitas. Kekerasan di Jakarta yang menggelisahkan dan makin variatif bentuknya. Kita lihat mutilasi misalnya—suatu bentuk pembunuhan yang mungkin di dunia barat hanya ada pada zaman lampau,tiba-tiba marak dilakukan di Jakarta beberapa waktu ini.

Tingkat bunuh diri di Jakarta juga meningkat. Mereka yang melakukan itu  meloncat dari mal, apartemen, sampai gantung diri di kamar kontrakan. Angka penembakan di siang bolong hingga aksi intimidatif berbau agama yang juga terhitung tinggi. Kekerasan berupa perubuhan patung-patung yang dianggap tidak senonoh dan penolakan pembangunan rumah-rumah agama oleh oknum-oknum tertentu termasuk di antaranya.

Negara seolah tidak bisa melindungi warganya. Namun warga kota bertahan dan melakukan resistensi dengan caranya sendiri-sendiri.  

Narcisism, Voyeurism, and The Body
Topik ini mencermati fenomena narcisism dan voyeurism di kota besar. Narsisisme bukan hanya fenomena yang terjadi di kalangan artis. Namun sudah menjadi bagian dari psikologi warga Jakarta.

Masing-masing komunitas di Jakarta menampilkan citra tubuh idealnya sendiri-sendiri. Citra-citra tubuh itu disajikan dan dikomoditikan  dengan berbagai cara. Melalui acara-acara gathering yang eksklusif maupun masal, eksibisi di mal-mal dan interaksi maya internet.
Terjadi fenomena mengagumi, memanjakan, memuji, menyayangi, mengkasihani, mengagung-agungkan  tubuh sendiri-sendiri. Ada kecenderungan tubuh yang tadinya sangat personal menjadi dipublikkan. Karakter tubuh menjadi eksibisionis.  Tubuh ditampilkan ke publik  dengan cara sangat erotis terbuka dan berorientasi libidinal  atau sebaliknya justru ditampilkan sangat tertutup seperti yang terjadi di kalangan para jamaah agama.

Tubuh personal beberapa pesohor, katakanlah seperti Luna Maya dan Ariel Peterpan,  oleh kekuatan industri media disodorkan ke publik.  Publik akhirnya  dipaksa menjadi  masyarakat  voyeurism—masyarakat yang mengintip tubuh personal  orang lain.

Para agamawan dan politisi yang seharusnya melakukan pencermatan yang kritis  atas fenomena ini justru ikut larut. Para agamawan justru tidak lagi kuat berada dalam  lingkungan esoterik di mana tubuh yang alamiah, sakral dipertahankan  namun turut tergoda muncul dan menonjolkan diri dalam panggung-panggung televisi bahkan mimbar-mimbar iklan. Apalagi para politikus dan pejabat.

Keinginan untuk menyatakan kehadiran individu dalam kehidupan kota dinyatakan dalam cara cara pemujaan yang khas.

Game, Leisure, and Gadget Victim
Bisa dibilang, Jakarta menjadi tempat sampah bagi berbagai “gadget” dan industri entertainment  dunia.  Jakarta menjadi sasaran empuk uji coba pemasaran, para kapitalis dari Amerika sampai Cina. Produk-produk  berbagai barang life style  asli atau palsu, jasa  hiburan dari segala penjuru dunia tiap harinya menyerbu  kota ini. Anehnya, warga kota-kota ini sangat suka sekali menyerap apapun barang dan jasa ini  tanpa pandang bulu.

Band era 70-an yang di negara asalnya Amerika atau Eropa sudah tak laku sampai band indie mancanegara yang tak dikenal luas pun berdatangan dan laris di sini. Gaya busana terbaru yang sebenarnya tak cocok dengan ukuran tubuh manusia Jakarta pun dikonsumsi  menjadikan ada yang menilai bahwa anak muda kita adalah  korban fashion (fashion victim). Mainan-mainan yang aneh-aneh, boneka-boneka seks dan robot eksprimen  juga makin digemari.  Warga kota-kota ini tak diragukan lagi juga menikmati berbagai  eksprimentasi spa dan karaoke.

Seniman membuat parodi, satir atas fenomena ini atau juga membuat  gadget-gadget atau obyek-obyek eksprimental dari game, boneka, robot dan sebagainya. Di sini, kami mengundang para perupa, seniman toy, seniman game, pematung, dan fashion artist. Mereka bisa memainkan topik dengan semangat penyadaran, asyik bermain, sekaligus tetap kritis.

Mengingatkan kita pada kredo kritik pada konsumerisme Barbara Kruger dulu; ‘I shop there for I am’.

Metro-Text  Seductions
Pada bagian ini kurator secara khusus mengundang para perupa, desainer, sineas independen  merefleksikan berbagai teks karya pengarang kita yang bertema metro-pop. Pasalnya, akhir-akhir ini  banyak para pengarang kita mengolah dunia urban sebagai materi karya mereka. Mereka menghasilkan novel, cerpen, puisi, buku harian, catatan-catatan sampai  naskah teater yang menampilkan tema metro-pop.

Para perupa membuat karya bertolak dari tafsir bebas atas buku-buku  karya: Djenar Mahesa Ayu, Clara Ng, Dewi Lestari, Andrei Aksana, Binhad Nurrohmat, Dinar  Rahayu, Ayu Utami, Bre Redana, Ugoran Prasad, Eka Kurniawan dan sebagainya. Mereka semua adalah para pengarang yang bergelut dengan dunia urban. Para perupa bebas menafsirkan karya seorang penulis. Melalui karya Djenar Maesa Ayu, perupa dapat menafsirkan kumpulan tulisannya yang berjudul: 1 Perempuan 14 Laki-laki. Melalui karya novel Andrei Aksana yang berjudul: Janda-Janda Kosmpolitan, begitu pula karya novel Clara Ng yang berjudul: Barbie, kumpulan puisinya Binhad Nurrokmat:  Kuda Ranjang, atau dari kumpulan cerpennya Bre Redana: Urban Sensation.

Bisa juga bertolak dari cerpen dan novel kita tahun 70-an yang temanya berlatar kota, misalnya novel Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha, atau novel-novel erotis Motinggo Busje atau cerpen Umar Kayam: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Khusus naskah teater yang akan kami tawarkan di antara lain: Opera Kecoa karya Riantiarno (Bercerita tentang para waria ibu kota), Opera Ikan Asin karya Riantiarno (Bercerita tentang para preman ibu kota), Dor karya Putu Wijaya (bercerita tentang busuknya dunia peradilan), Republik Reptil karya Radhar Panca Dahana (bercerita tentang korupsi dan suap di kepolisian.

Para perupa lah yang kemudian memilih novel, cerpen atau naskah teater (yang telah diterbitkan) dari pengarang Indonesia mana pun, dengan catatan bahwa karya tersebut berkaitan dengan problem dunia urban. Pilihan dan tafsir itu tetap dilandasi semangat yang bebas dan kritis, termasuk merekam berbagai resposn masysrakat atas kesesakan kota dan berbagai problemnya.

Interpretasi dari interpretasi tentang Kota.

Citizen and Homo Ludens
Berbeda dengan karya-karya yang ditampilkan di atas, karya-karya di tempat publik adalah hasil kerja sama perupa dengan komunitas-komunitas yang ada di Jakarta.

Sekitar 20 lokasi publik yang direncanakan untuk menjadi ajang perhelatan ini. Di antaranya adalah taman-taman kota, kampung (2), areal klenteng (1), stasiun(2), antar stasiun (1), ruas jalan (3), Monas, sungai (1), titik jembatan layang (3), dan titik di Jakarta untuk Punch Line (3). Di sana para perupa akan menghasilkan karya-karya yang sifatnya penuh dengan permainan dan  partisipatif.

Karya berangkat dari riset atau kerjasama para perupa dengan  komunitas-komunitas  hobi seperti komunitas lomografi, komunitas sketsa. Atau dengan warga yang ada di lokasi.

Tema Citizen and Homo Ludens merespon kenyataan bahwa warga jarang sekali dilibatkan dalam perkembangan kota. Mereka nyaris menjadi obyek atas proyek-proyek kota, baik ekonomi, sosial politik, maupun budaya. Dengan mengangkat topic ini, kami berharap bisa mengajak masyarakat untuk memiliki ruang kotanya sendiri, bermain di dalamnya, menentukan apa yang sebaiknya hadir atau dihilangkan dari pemandangan di kotanya sendiri. Masyarakat didorong menjadi subyek dalam ruang kotanya, terutama lewat ekspresi karya seni rupa.

Kesertaaan masyarakat dalam terjadinya satu karya seni.

Bila dilihat sepintas, lima sub-tema ini cenderung berkononotasi pesimis atau negatif, namun bagaimana pun upaya-upaya untuk tetap bertahan, hadir, dan bekerja di kota besar Jakarta adalah satu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Para kurator mengawali dengan sikap yang kritis pada satu kenyataan akan ‘sesak’nya Jakarta (atau kota besar mananpun di dunia) yang terus menerus tumbuh dan dengan alih-alih sesak dan meledak ia seolah melahirkan ruang-ruang baru yang nyata ataupun maya. Dalam sesak berusaha  menghidupi dirinya sendiri; berbagai usaha lahir dalam kepadatan, kreativitas tumbuh dalam berbagai manifestasi, malah seolah kesesakkan ini menjadi pemicu kreativitas dalam segala bidang, positif maupun negatif. Tentu inilah yang menjadi pertanyaan serta harapan dari dan untuk semua penghuni kota besar. Sampaimana dan bagaimana ia dapat terus ‘tumbuh’ dengan konotasi yang  positif?

Kota dan Internasional
Selain menghadirkan perupa, seniman nasional (di bawah usia 40 tahun), para kurator juga menghadirkan para perupa internasional (berbagai usia), ini disebabkan agar masyarakat dapat melihat karya-karya perupa yang memang tengah menjadi penting dalam perkembangan senirupa internasional belakangan ini.

Keterlibatan mereka tak pelak berkat dukungan berbagai institusi kebudayaan dan perwakilan asing yang ada di Jakarta, Indonesia maupun tidak.
Namun bagaimana pun implementasi serta keberhasilan rencana perhelatan ini, tentunya selain dari kepiawaian para kurator, juga berasal dari dukungan dan kesertaan dari berbagai pihak dan pemangku.
Sebuah perhelatan senirupa seperti ini, memang telah menjadi bagian dari kegiatan kota (pemerintah kota dan jajarannya) di kota-kota besar di perbagai negeri dalam mengajak masyarakatnya untuk  merayakan kotanya sendiri sekaligus berkaca dan mengkritisi diri serta berkontemplasi melalui tontonan dan kegiatan seni budaya serta upaya memperkenalkan kota itu sendiri untuk berbagai kepentingan termasuk pariwisata.

Jakarta Biennale, dengan promoter utama Dewan kesenian Jakarta adalah bagian dari Pemerintah Daerah DKI cq. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Maka dari itu selain acara ini sebagai bentuk perayaan dan kritik (melalui kesenian), tetapi juga merupakan upaya kota Jakarta menjadi bagian dari jajaran kota-kota budaya serta kesenian kontemporer di dunia.

[1] Ade Darmawan, Firman Ichsan dan Abduh Azis dari DKJ serta Irwan (Iwang) mengembangkan judul Area menuju AreNa, dari  judul awal The Fluid Zone, tema dari kurator utama JB XIII, Agung Hujatnika Jenong.
[2] Sukethu Mehta, penulis Ameika asal India menulis tentang kota kelahirannya,setelah lama ttinggal di AS dating ke Mumbay, dan melihat serta menuliskan Mumbay mengacu pada ingatannya dimasa kecil, ia member sub judul lost and found.


Firman Ichsan,
Ketua Dewan Kesenian Jakarta

Selasa, 10 Januari 2012

PARADOX IN PARADISE


Ada yang selalu menarik perhatian saya, seolah mata saya dipaksa untuk melihat dan memperhatikan “tubuh” yang sedang tidur di ruang-ruang publik kota Jakarta. Ketika ruang personal terhampar di ruang publik, tubuh-tubuh itu meryergap daya visualitas dan mengguncang psikologi saya.   Di gerbong kereta ekonomi, di stasiun kereta, di trotoar, di pasar, di terminal, di atas Bus Way, di sekitar gedung bertingkat yang sedang di bangun, tubuh-tubuh itu menyita pehatianku, menciptakan paradoks  pada Jakarta yang tengah terbuai dalam mimpi tentang "surga" nan gemerlap. Jakarta yang Modern. Jakarta yang ingin menjadi pusat pehatian dunia sejak monumen yang gigantik ditancapkan di beberapa penjuru Jakarta, selepas Indonesia merdeka.

Tidak semua orang beruntung hidup di Jakarta yang kompetitif, sebagian orang tidak bisa membeli rumah, atau menyewa tempat tinggal. Harapan yang begitu besar membuat kaum urban ini bertahan, apapun resikonya. Kita semua berharap bangsa kita sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tentu dengan tidak melupakan bahkan mengorbankan subyek-subyek yang terlibat di dalamnya, sekecil apapun sumbangan yang telah mereka berikan.

Dari latar belakang di atas saya mencoba untuk membuat figur yang sedang terlelap di dalam sebuah cangkang siput/bekicot dengan citra kain sarung atau selimut. Sarung sebagai rumah mereka untuk bertahan hidup di Jakarta.









Selasa, 01 November 2011

Sebatang Air



Outdoor Sculpture 
Bunga-bunga impian: Respon Seni Untuk Alam


ICC (International Cultural Center) Gallery merupakan sebuah galeri dengan visi membuat masyarakat dunia menjadi lebih baik dan memiliki misi menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, apresiasi dan berbagai apa yang kita punya, melalui alam dan budaya.
Melalui program budaya,kami menggelar sebuah pameran patung Outdoor dengan judul “Bunga-bunga impian: Respon Seni Untuk Alam” yang dikuratori oleh Mikke Susanto. Pameran ini menarik, tak hanya karena karya yang disuguhkan oleh ke 12 orang peupa, namun juga proses pra-pameran. Ide-ide gila yang kadang lebih terlihat absurd muncul dari pemikiran para perupa setelah melihat landscape ICC. Ide tentang air sebagai “nyawa” pada tiap benda hingga pengambil alihan fungsi suatu benda menjadi symbol dengan makna yang berubah sama sekali. Ide-ide merespon alam tersebut terealisai di bentangan area ICC. Tak hanya ICC, pengunjung pun akan belajar makna ruang dan alam. Bagaimana memaknai secara lebih alam yang menjadi bagian “ruang” dan melihat secara nyata galeri tak hanya sebuah kubus putih. Pameran ini berusaha menjalin makna antara tempat, konstruksi, struktur dan karya di dalam landscape dan arsitektur di ICC sehingga mampu memperluas area definisi dari karya-karya patung itu sendiri.

*Yayasan Internasional Cultural Center Pandaan





                  



   Mengapresiasi kerja Saroni sama dengan mengapresiasi ketrampilan tangannya. Pemikirannya mengembara ke segala persoalan. Artinya pikiran dan tangannya ibarat pisau dan buah yang hasilnya enak sekaligus indah. Ia pernah mengungkapkan ide-ide mengenai isu sosial, lingkungan, juga aspek-aspek formal dalam kajian seni rupa. Keahliannya mengelolah bahan adalah bagian yang tak bisa dilepaskan darinya. Oleh karena itu, menonton karya-karya Saroni adalah menonton detail. Kerajinan tangan yang dimilikinya tidak saja mampu menghasilkan kayu dengan ornament yang halus (maklumlah bahwa ia, juga anak Jepara yang dekat dengan dunia mebel berukir), namun memadukan objek satu dengan yang lain juga menarik untuk dinikmati. Karya-karya Saroni bertajuk Sebatang Air ini disebar di seluruh ruang yang ada di ICC. Ia ingin mengatakan bahwa eksistensi air tidak saja berbentuk cair namun juga telah menjadi bagian dalam setiap tubuh atau batang makhluk hidup di dunia ini. Ia ingin memberi penghargaan terhadap air.

*Mikke Susanto

Senin, 04 Juli 2011

BARITO SIGN


www.indonesiaartnews.or.id, Senin, 04 Juli 2011 - 18:40
   



oleh M. Agus Burhan
Lukisan karya perupa Kalimantan Selatan, Sulistyono, yang dipamerkan dalam pameran "Barito Sign" di Banjarmasin. Pameran dibuka 7 Juli 2011. (foto: GNI)
1. Prolog

Barito Sign bisa dimaknai sebagai Penanda Barito. Dipakainya judul kuratorial dalam pameran ini bukan hanya sekedar untuk menunjukkan tempat kegiatan atau batasan spasial dari mana pelukis-pelukis daerah itu direkrut. Namun lebih dari itu, penanda tersebut dimaksudkan dapat mengungkapkan problem-problem kultural wilayah ini lewat pembacaan karya-karya yang akan dipamerkan. Wilayah Kalimantan Selatan atau khususnya Banjarmasin, di masa lalu dikenal sebagai kawasan yang berkembang dengan kebudayaan sungainya yang disangga oleh keberadaan Sungai Barito.

Fakta sosiokultural dalam sistem kehidupan masyarakat yang bersumber dari habitat kebudayaan berbasis sungai itu dapat dilihat pada fakta kebudayaan mental, sosial, maupun  visual yang dihasilkan masyarakat Banjar. Dari fakta mental yang bersumber dari berbagai mitos, legenda, atau juga filosofi, ungkapan-ungkapan yang hidup dalam tradisi di masyarakat Banjar, seperti �balarut banyu�, �maangkat batang tinggalam�, dan seterusnya mengacu kepada sungai sebagai referent. Begitu pula fakta mental itu terwujud sebagai fakta sosial dalam adat dan ritus dan yang dipraktikkan dalam kehidupan, dan menjelma menjadi ikon dan simbol dalam artefak berupa ornamen Banjar entah sebagai jamang maupun ornamen tekstil, seperti �Gigi Haruan�, �Naga Balimbur� dan �Kangkung Kaombakan�. Oleh karena itu, Barito sebagai penanda adalah keniscayaan dari hubungan sungai sebagai lokus kebudayaan dan konsepsi-konsepsi masyarakat tentang makna kebudayaan sungai tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, hubungan pemaknaan itu terus berubah dan berkembang seiring degradasi alam akibat kapitalisme global yang menjangkau ke pelosok pegunungan Meratus dan hutan-hutan di Kalimantan Selatan (Hajriansyah, 2001). Dari fakta-fakta tersebut, persoalan aktual yang banyak menjadi perhatian para budayawan dan seniman adalah perubahan akibat pembangunan yang kehilangan orientasi basis kebudayaan.

Banjarmasin dulu dikenal sebagai kota sungai, karena memiliki 400 sungai kecil yang bermuara di sungai besar di sana. Sungai berfungsi sebagai jaringan transportasi dan urat nadi ekonomi sosial, sehingga pusat bisnis, industri rumah tangga, dan pemukiman dulu lebih banyak terkonsentrasi di tepi-tepi sungai. Bahkan sampai saat ini, masih dapat dijumpai keberadaan pasar apung di Banjarmasin, yaitu Pasar Apung Alalak dan Mura Kuin di Sungai Barito. Namun demikian semenjak masa Orde Baru yang memfokuskan pembangunan infrastruktur ke wilayah darat, wajah Banjarmasin kini telah berubah. Sungai kini tinggal menjadi belakang rumah, sementara jalan menempati posisi sebagai beranda rumah. Pemukiman dan semua aktivitas telah beralih ke pinggir jalan raya, dan sungai berangsur kehilangan perannya sebagai sarana mobilitas warga (A. Handoko dan Defri Werdiono, Kompas, 7 Mei 2011).

Merujuk pada ruang sosiokulturalnya yang berubah, Barito Sign atau Penanda Barito bisa dimaknai sebagai upaya pencarian pada fakta-fakta seni rupa, adakah seni rupa Kalimantan Selatan juga telah berubah? Apakah ada perubahan orientasi dari pengelolaan dan kreativitas yang bersifat lokal ke arah yang lebih modern? Demikian juga apakah ada perubahan dari eksplorasi dan pencapaian konsep dan tema-temanya yang terdahulu?

2. Penanda Perubahan Lewat Lingkup Sosial dan Senimannya

Selama ini, seni rupa Kalimantan atau khususnya seni lukisnya, merupakan suatu dunia kreatif yang potensial dalam mengembangkan seni budaya di wilayahnya maupun menyumbangkan peran senimannya di Indonesia. Hal itu misalnya bisa dilihat dari keberadaan ikonnya, yaitu Gusti Solihin. Pelukis yang lahir di Banjarmasin pada masa kolonial Belanda ini, seluruh hidupnya dipersembahkan pada dunia seni lukis. Setelah ia belajar melukis pada masa Jepang, ia pergi ke Solo dan Yogyakarta untuk berkarya dan memimpin sanggar seni lukis. Gusti Solihin pada tahun 1946 mendirikan Taman Lukisan Permai di Banjarmasin, tahun 1951-1957 sebagai ketua sanggar Pelukis Indonesia (PI) di Yogyakarta. Dan di tahun 50-an itu ia bersama Kusnadi dan Affandi berangkat mengikuti pameran Biennale II Sao Paulo, Brazil.

Upaya Gusti Solihin dalam meneguhkan keseniannya lewat mondar-mandir di antara tempat-tempat seperti Banjarmasin, Jawa, dan Bali, atau sebagai pelukis yang sekaligus sebagai penggerak sanggar, dan juga sebagai aparatur pemerintah lewat kantor kebudayaan, akhirnya juga menjadi model yang banyak dikembangkan oleh pelukis-pelukis Kalimantan Selatan. Hal yang demikian tidak terlepas dari kondisi kesenian Indonesia yang sampai saat ini iklim dan pendukungnya belum bisa merata dan seimbang di semua provinsi yang ada. Secara dikotomis infrastruktur seni rupa bisa dipilah sebagai dunia kesenian Jawa (termasuk Bali) dan luar Jawa. Demikian juga karena pendukung (support) kesenian yang bisa berupa commercial support dan government support masih tidak memadai di daerah-daerah luar Jawa dan Bali, maka self support merupakan andalan utama tumbuhnya dunia kesenian tersebut. Problem sosiologis seni rupa Indonesia yang demikian masih aktual sampai sekarang.

Dalam sebuah art world seni rupa, berbagai komponen seperti seniman, masyarakat pendukung, pemerintah, sekolah dan sanggar, kurator, kritikus, galeri dan museum merupakan berbagai elemen yang harus saling bersinergi. Tentu di Kalimantan Selatan belum ada kelengkapan komponen seperti itu, namun dalam kondisi yang serba terbatas dunia seni lukisnya tetap tumbuh dengan jalannya sendiri. Penggerak utamanya yaitu semangat dan kreativitas para pelukis. Dari kenyataan itulah, peran seniman juga menjadi berganda-ganda dalam karirnya. Mereka selain sebagai pelukis yang telah berat menjaga stamina kreativitas, tidak jarang karena terpaksa harus mau mengajar atau mengurus sanggar, mencari pembeli atau memperluas jaringan komersial, membuat lobi dengan pemerintah, mewacanakan karya dengan menulis, bahkan juga menjadi panitia dalam pameran-pameran yang harus diselenggarakan. Kondisi demikian terjadi karena masih terbatasnya infrastruktur dan tenaga profesional, dan juga minimnya peran pemerintah dalam dunia seni lukis di daerah.

Dari beberapa contoh, kondisi faktual tersebut dapat dilihat. Lewat pernyataan Kepala Taman Budaya pada acara �Gelar Eksperimentasi dan Pameran Seni Lukis� tanggal 18-24 Februari 2010 di Gedung Warga Sari, masih ditekankan bahwa pameran itu merupakan pendorong atau penggerak untuk memicu lahirnya kreativitas pada kantung-kantung seni lukis di Kalsel. Hal itu dikarenakan, pameran seperti itu merupakan salah satu di antara sedikitnya wahana berekspresi dan pengembangan seni lukis Kalsel yang digagas oleh berbagai pihak dalam lima tahun terakhir (Mata Banua, Selasa, 9 Februari 2010). Dalam kesempatan tersebut, pameran lukisan banyak didatangi pengunjung, terutama dari kalangan pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum (Tin, Banjarmasinpost.co.id, Rabu, 24 Februari 2010). Pernyataan dan suasana demikian mengungkapkan harapan agar ke depan kondisi seni lukis Kalimantan Selatan dapat menjadi hidup, sebagaimana pada pusat-pusat seni rupa di Jawa dan Bali. Beberapa waktu yang lalu media massa lokal juga mengungkap perlunya dukungan pemerintah pada ide kreatif seniman dalam partisipasi kotanya. Beberapa seniman Banjarbaru mempunyai gagasan untuk membuat safari sketsa untuk bisa memperkenalkan dan mengabadikan Kota Banjarbaru ke dalam lukisan. Namun ide itu juga masih membutuhkan komitmen Walikota dan para elit Kota Banjarbaru dalam mengupayakan peluang dukungan pada kerja kreatif tersebut (HE. Benyamine, Radar Banjarmasin, 28 Agustus 2010: 3).

Sungguhpun demikian, dengan melihat dinamika yang tumbuh, pelukis-pelukis Kalsel walaupun hanya sedikit mendapat dukungan pemerintah dan peluang dukungan ekonomi yang terbatas dari wilayahnya, mereka tetap berupaya untuk berkembang dengan dukungan sendiri (self support). Dalam upaya itu mereka selalu berkiblat pada sumber-sumber kemajuan yang ada di Jawa dan Bali. Setelah masa Gusti Solihin, ada generasi berikutnya yaitu Budi Santosa dan Ridwan, kemudian diteruskan pelukis-pelukis yang belajar sendiri seperti DMA. H. Adjim Arijadi, Muhammad Yusran, Didik Iswandi, Akhmad Sa�bandi, Fitran Maulani, Raudatul Ali, Sulistyono, Didi Agus, Didi Husni Wiraharja, Aswin Noor, M. Syahriel M. Noor, Oedin, dan Umar Sidik. Selain itu secara kontinyu banyak pelukis-pelukis Kalimantan Selatan yang belajar di Jawa, khususnya di ASRI sampai FSR ISI Yogyakarta sekarang. Mereka adalah Misbach Tamrin, A. Taberani, M. Ifansyah, Sujatmiko, Rizali Noor, M. Husni Thambrin, Rokhyat, Adrian Karnadi, Diah Yulianti, Kamiran Suriyadi, Hajriansyah, dan Zulian Rifani. Demikian juga dari IKIP Yogyakarta yaitu Sumarwana, dan dari UST yaitu Robert Nasrullah.  

Tumbuhnya banyak pelukis dengan lingkup sosial dan pengalaman pendidikan masing-masing akhirnya memberi variasi jenis seniman di Kalimantan Selatan. Ada banyak seniman yang tetap bertahan hidup di daerahnya dengan mengembangkan kreativitas dan dukungan yang bersifat lokal. Pelukis jenis ini terdiri dari para otodidak maupun yang pernah belajar di Jawa. Dari merekalah sebenarnya dunia seni lukis Kalimantan Selatan atau Banjarmasin ini dapat diharapkan dinamikanya.

Berikutnya adalah seniman-seniman yang belajar di Jawa, tetapi memilih tidak pulang ke kampung halamannya. Dari mereka kadang-kadang bisa diharapkan sumbangan untuk mendinamisasi dunia seni lukis Banjarmasin, tetapi tentu hanya sebatas sebagai tamu atau sebagai peninjau. Kecuali jika mereka itu mempunyai dedikasi sebesar pendahulunya yaitu Gusti Solihin, yang aktif mondar-mandir dan setelah pulang menggiatkan Banjarmasin dengan sanggarnya. Tetapi pelukis-pelukis yang melanglang buana itu tetap akan membawa citra yang membanggakan bagi Kalimantan Selatan, karena mereka sering mengungkap kedalaman nilai-nilai budaya Kalimantan pada tingkat nasional maupun internasional. Jenis yang lain adalah seniman yang tetap berkutat di Kalimantan, tetapi juga mempunyai koneksi dengan jaringan nasional dan internasional. Kedua jenis seniman terakhir ini diharapkan dapat menarik visi seniman-seniman yang berkutat di tempat asal dan juga masih bervisi lokal.

Dinamika seni rupa Indonesia masa kini tidak bisa lepas dari perkembangan seni rupa internasional yang perkembangannya sangat cepat. Kondisi yang demikian sejalan dengan era informasi yang telah didukung dengan segala perangkat teknologi informasi. Dalam era ini pula dalam paradigma seni kontemporer semakin berkembang pemahaman akan keanekaan pluralitas budaya. Bagaimana kreativitas tetap diupayakan bersumber dari konteks-konteks pluralitas budaya lokal, namun strategi idiomatiknya bisa dalam bahasa global internasional. Dialog global lokal yang dikenal dengan glokalisasi ini perlu mendapatkan perhatian dan pemahaman serius dari seniman-seniman daerah. Merupakan kenyataan yang menggembirakan bahwa beberapa gejala aktual dari berbagai kegiatan seniman Kalimantan Selatan telah mengarah pada perubahan-perubahan tersebut.   

Yang perlu diangkat sebagai ikon perubahan adalah Sulistyono perupa muda Kalsel yang berhasil menjadi nominator Beijing International Art Biennale (BIAB) 2010. Dia menjadi satu dari seratus perupa dari delapan puluh negara yang berhasil terpilih sebagai nominator. Pada tahun 2007 dia juga mengukir sejarah dengan memenangi Art Biennale Beppu di Jepang, yang berhasil mengungguli peserta dari berbagai negara di antaranya Jepang, Filipina, Taiwan, Hongkong, Thailand, Singapura, Malaysia, dan juga dari Indonesia. Hal itu, menjadi bukti bahwa seniman Kalsel juga potensial, tidak kalah dibanding dengan seniman dari Jawa, Sumatera Barat, atau Sulawesi Selatan (Tribunnews.com, Minggu, 11 Juli 2010).

Penanda perubahan berikutnya yang perlu diangkat, yaitu Pameran Seni Komunitas Perupa Kalimantan Borneo dengan tema �Merentang Spirit Kalimantan�, 7-12 Desember 2010, di Anjungan Kalbar, TMII Jakarta. Kegiatan itu dibangun dengan visi kesadaran era global, yang harus banyak membangun komunikasi dengan pelukis dunia lewat karya seni yang punya kekhasan sendiri. Lukisan yang dipamerkan berbicara tentang situasi kontekstual Kalimantan. Para pelukis mempunyai perhatian pada masalah seperti kerusakan dan surutnya kekayaan alam, serta terpinggirnya masyarakat asli pedalaman beserta kebudayaannya. Pameran tersebut merupakan kiprah yang kedua setelah sebelumnya di TIM Jakarta. Forum yang merupakan wadah berkumpulnya Komunitas Perupa Kalimantan itu merupakan awal kebangkitan perupa Kalimantan dalam kiprah di tingkat nasional maupun internasional (Syam, http://www.mediaprofesi.com, Rabu, 08 Desember 2010).

3. Penanda Perubahan Lewat Gaya, Konsep dan Tema Lukisan

Penanda perubahan berikutnya dapat dilihat pada gaya dan tema para pelukis kuala Barito ini. Para pelukis yang mulai bergerak dengan idiom gaya kontemporer mulai bermunculan. Gaya kontemporer yang dimaksud mempunyai ciri-ciri visual yang luas, yakni bisa terungkap lewat eksplorasi bentuk, pengolahan warna dan ruang, maupun penggabungan secara keseluruhan elemen-elemen visual dalam spirit baru. Bahan yang dipakai bisa bentuk-bentuk lama, tetapi dieksplorasi dalam ekspresi idiom baru. Ungkapan gaya yang demikian, biasanya erat kaitannya dengan desakan munculnya konsep dan tema-tema aktual yang menekankan nilai-nilai kontradiktif. Dalam karya pelukis akan mudah dijumpai ungkapan konsep dan tema-tema yang memperlihatkan realitas yang bersifat kontradiktif dan paradoksal itu. Hal demikian sejalan dengan keniscayaan zamannya, bahwa semua nilai modern yang dibangun peradaban manusia di manapun sekarang tengah menghadapi keadaan yang kritis. Demikian juga kalau dilihat bagaimana kuasa-kuasa negatif modernisasi telah merusak bumi dan budaya Kalimantan.

Dalam pameran ini semangat perubahan dalam idiom yang demikian bisa dilihat pada  karya-karya Misbach Tamrin lewat �Ibu Pertiwi Menangis�, Diah Yulianti dalam karya �Lintas dan Penglihatan Batin�, Sulistyono lewat �Future Life�, Sujatmiko melalui ungkapan �Black Trees Scream�, Zulian Rifani dalam �Rumah Kami�, Umar Sidik dalam �Burung Kertas�, dan M. Syahriel lewat karya �Tutang�. Selanjutnya, walaupun tidak mengusung tema-tema kontekstual dengan muatan yang kontradiktif, karya-karya Adrian Karnadi dalam �Harmoni�, Robert Nasrullah dalam �Rumah Kedua�, Aswin Noor dalam �Protomotif�, dan Ridha dalam �Kaligrafi dan Ornamen Sasirangan� lewat eksplorasi bentuk dan warnanya mempunyai karakter visual yang beridiom kontemporer.

Dalam pameran ini juga masih banyak pelukis-pelukis yang mengungkapkan gaya dan tema dengan idiom mapan modern seperti yang berkembang kemarin. Berbagai tanggapan atas kekayaan budaya dan kondisi sosial diungkap dalam gaya-gaya yang sangat familier. Karya-karya demikian berupaya mengungkap kedalaman nilai-nilai kebudayaan Kalimantan dan nilai universal lainnya. Berbagai ekspresi tersebut bisa dilihat pada Rizali Noor dalam karya �La Ilaha Ilallah�, Kamiran Suriyadi lewat karya �Menuju Ridha Illahi�, M. Husni Thambrin dalam ungkapan �Putri Junjung Buih�, Noorman S. dalam �Wayang Gong�, Nanang M. Yus dalam �Begandeng� (Perahu), Fitran Maulani dalam �Burung Hud Nabi Sulaiman�, Kasyful Anwar dalam �Kampung Alabio�, DMA. H. Adjim Arijadi dalam �Perempuan Tradisional�, Akhmad Sa�bandi dalam �Dahsyat�, Didi Agus dalam �Ikan Koi�, dan Sumarwana lewat karya �Kerbau Rawa�.

Selebihnya, karya-karya pelukis Kalimantan Selatan yang lain masih perlu proses penguatan teknik, pendalaman konsep, dan ide penciptaan. Ada beberapa pelukis yang bisa diharapkan pengembangan potensinya ke depan, yaitu Didi Husni, Didik Iswandi, Imelya Ridha, Oedin, Yuli Ernawati, dan masih ada pelukis lain yang masih perlu ditingkatkan lagi. Dari hasil yang dicapai, tampak mereka belum banyak melampaui pengalaman dan belum banyak menghasilkan karya. Namun demikian mereka sengaja tetap ditampilkan sebagai kenyataan �Barito Sign� saat ini, lebih-lebih karena sampai sekarang masih sulit mencari jumlah pelukis yang banyak di Kalimantan Selatan.

4. Koleksi Galeri Nasional Indonesia Sebagai Motivator

Dengan melihat berbagai permasalahan itulah Galeri Nasional Indonesia (GNI) berupaya memberikan perannya untuk mendorong mengembangkan seni rupa daerah. Salah satu tugas yang diemban GNI adalah memberikan edukasi dan melakukan desiminasi koleksinya supaya bisa memberi semangat pada pertumbuhan seni rupa daerah. Oleh karena itu, lewat pameran �Barito Sign� ini diharapkan karya-karya para pelukis master Indonesia yang dipamerkan bersama pelukis-pelukis setempat dapat menebarkan radiasi kreatif pada semua komponen dalam dunia seni lukis Kalimantan Selatan.

Dengan menghadirkan koleksi karya-karya pilihannya GNI juga bertujuan untuk memberi masukan, tantangan, dan perbandingan dalam mendorong proses transformasi seni rupa Banjarmasin atau Kalimantan Selatan. Apalagi dalam sejarah seni rupa modern Indonesia, terbukti pelukis Kalimantan Selatan juga mempunyai andil yang besar lewat pelukisnya, yaitu Gusti Solihin. Dengan ditampilkan karyanya sebagai pelukis master Kalimantan Selatan pada pameran �Barito Sign�, diharapkan dapat menggugah semangat para pelukis muda agar mencapai perkembangan yang dinamis.

Pelukis-pelukis master Indonesia yang ditampilkan dalam pameran ini meliputi berbagai periode sejarah. Dari generasi romantisisme Mooi Indi�, yaitu Basoeki Abdullah. Dari generasi Kontekstualisme Kerakyatan, yaitu Sudjojono, Otto Djaja, dan Tatang Ganar. Dari generasi Humanisme Universal dengan keberagaman liris, yaitu Kartono Yudhokusumo, Rusli, Oesman Effendi, Zaini, Widayat, Gusti Solihin, Siti Roelijati, Nyoman Tusan, Fajar Sidik, G. Sidharta, AD. Pirous, Abas Alibasyah, Irsam, Umi Dachlan, dan Dwijo Sukatmo. Dari kecenderungan Surrealisme, yaitu Tisna Sanjaya dan Effendi. Dalam pameran ini dihadirkannya pelukis lebih memakai pertimbangan peran ketokohan atau keterwakilan karya-karya dalam periode-periode sejarah seni lukis Indonesia. Dengan demikian penekanannya adalah, karya-karya itu merupakan representasi pencapaian personal style yang kuat dari pelukisnya pada suatu periode sejarah. Karya-karya koleksi GNI tersebut mempunyai banyak informasi dan makna yang bisa diserap. Secara tekstual karya-karya itu telah purna dalam masalah eksplorasi bentuk dan teknik. Secara konseptual dan idiom visualnya karya-karya itu mewakili zaman ketika para pelukisnya sedang muncul sebagai seniman yang kuat dalam berperan sebagai agensi sejarah.

Dari masing-masing periode yang ditampilkan, karya-karya itu mempunyai interes yang berbeda sesuai dengan visi kebudayaan dan visi estetik yang membentuk. Oleh karena itulah problem-problem sosiokultural Indonesia bisa dilihat pada konsep dan tema karya masing-masing periode ini. Pada masa periode Mooi Indi� awal abad ke-20 sampai akhir 1930-an, berkembang pandangan romantisisme eksotis Mooi Indi�. Mereka memuja konvensi keharmonisan, nilai ideal, dan eksotisme tradisi. Karya-karyanya mengungkap keindahan alam dalam naturalisme dan impresionisme, serta eksotisme dunia tradisi. Masa Persagi sampai Lekra berkembang tahun 1938-1965, dalam paradigma estetik faham kontekstualisme kerakyatan. Paradigma ini dipengaruhi oleh perubahan sosial politik, terutama semangat nasionalisme dan kemerdekaan pada perubahan estetika dalam seni lukis. Seniman ingin mengungkap realitas kehidupan rakyat dan mencari nilai keindonesiaan dalam seni rupa. Karya-karya lukisan merefleksikan kehidupan dan kedalaman jiwa rakyat sampai yang revolusioner.

Pada masa Orde Baru paradigma estetik humanisme universal menguat. Seni rupa membebaskan penciptaan dari pengaruh politik. Penghargaan kesadaran pribadi dan kebebasan berekspresi mendorong penjelajahan individual untuk melahirkan ungkapan bentuk yang beragam, terutama menitikberatkan perasaan dan emosi (lirisme). Beberapa fenomena visual memunculkan ciri sifat intuitif, imajinatif, dekoratif, dan non formal improvisatoris. Bentuk abstraksi menjadi gaya dominan yang dipakai seniman dalam periode ini. Pada tahun 1974 muncul Gerakan Seni Rupa Baru dengan paradigma estetik kontekstualisme pluralistis. Masalah sosial aktual dianggap lebih penting daripada keharuan liris personal. Beberapa ciri paradigmanya, yaitu melalui proses kreatif yang analitik, kontekstual, dan partisipatoris menghilangkan batas-batas seni murni, seni tinggi dan seni rendah, serta sikap plural nilai dalam ungkapan. Dalam karya-karyanya ada upaya kuat untuk menampilkan kekonkretan baru lewat berbagai macam medium dari teknik super realis, kolase, pemanfaatan ready made, seni instalasi, environmental art, sampai performance art.

Kurun waktu 1980 sampai 1990-an paradigma seni rupa baru mengalami sintesis dengan seni rupa konvensional menjadi seni rupa kontemporer Indonesia. Karya-karya bentuk lama masih muncul dengan kecenderungan surrealisme, abstrak ekspresionisme, dan gaya lainnya. Perupa dengan ungkapan multi media, tidak lagi ketat dengan pandangan sosial searah seperti kelompok Seni Rupa Baru, tetapi bebas tidak berpihak. Bahasa lirisisme, performance art, seni instalasi, dan media baru lain bisa dipakai bersama oleh seorang seniman. Gejala inilah yang merayakan seni rupa kontemporer Indonesia saat ini.

Dengan melihat karya-karya GNI yang dipamerkan tentu bisa dihubungkan dengan berbagai kreativitas pada gaya dan idiom visual para pelukis Kalimantan Selatan yang dipamerkan bersama. Dalam forum pameran ini diharapkan ada masukan dan dukungan spirit antargenerasi dan antaridiom dari para seniman yang bereksplorasi dalam kreativitasnya.  

5. Epilog


Dari pameran �Barito Sign� ini selain bisa memberi gambaran tentang berbagai potensi dari seni rupa Kalimantan Selatan dan kontribusinya pada seni rupa Indonesia, juga bisa memberi informasi dan kesimpulan lainnya. Pertama, proses kontinuitas generasi seni rupa di Banjarmasin atau Kalimantan Selatan lebih didorong oleh munculnya semangat kreativitas seniman. Faktor komponen dunia seni rupa lain seperti kurator, kritikus, art dealer, belum banyak berperan dalam menggerakkan dinamika dunia seni rupanya. Kedua, faktor komponen yang berupa pendidikan (baik sanggar maupun formal) dan akses pada jaringan seni rupa nasional dan internasional sangat berpengaruh untuk melahirkan generasi-generasi perupa baru di Banjarmasin. Ketiga, lewat pendidikan, berbagai aktivitas pameran, dialog seni rupa dan kebudayaan di Banjarmasin, maupun pengalaman pameran di luar, telah mendorong proses perubahan dan transformasi pada kesadaran perupa-perupa Kalimantan Selatan. Hal itu sangat mendorong perkembangan wacana dan bentuk-bentuk baru dalam seni rupa di wilayah ini, sehingga menjadi seiring dengan perkembangan seni rupa modern Indonesia pada umumnya. Galeri Nasional Indonesia dengan menghadirkan koleksi karya-karya pilihannya juga dimaksudkan untuk memberi masukan, tantangan, dan perbandingan untuk mendorong proses transformasi seni rupa Banjarmasin dan Kalimantan Selatan dalam mencapai perkembangannya yang dinamis.

Catatan:

A. Handoko dan Defri Werdiono, �Pembangunan di Darat Menggusur Pasar Terapung, Kompas, 7 Mei 2011.

__________, �Membangun Jalan, Melupakan Peradaban�, Kompas, 7 Mei 2001. �Dengan Lukisan Bawa Kalsel Mendunia�, Tribunnews.com, 11 Juli 2010.

�Dengan Lukisan Bawa Kalsel Mendunia�, Tribunnews.com, 11 Juli 2010.

Hajriansyah, �Barito Sign: Menyambut Pameran Karya Pilihan Galeri Nasional Indonesia dan Pelukis Kalimantan Selatan�, Pengantar Co-curator, Banjarmasin, 4 Mei 2001.

HE. Benyamine, �Ide Safari Sketsa Pelukis Banjarbaru�, Radar Banjarmasin, 28 Agustus 2010.

Syamhudi, �Awal Kebangkitan Perupa Kalimantan, Go Internasional�, http://www.mediaprofesi.com, 08 Desember 2010.

�Taman Budaya Kalsel Gelar Eksperimentasi dan Pameran Seni Lukis�, Mata Banua, 9 Februari 2010.

Tin, �Pameran Lukisan Ditutup Secara Sederhana�, Banjarmasinpost.co.id, 24 Februari 2010.
*) Kurator Galeri Nasional Indonesia (GNI), dan dosen Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta.

Sabtu, 02 Juli 2011

JAKARTA BIENNALE XIV 2011: "Survive or Escape?"

www.dkj.or.id

JAKARTA BIENNALE XIV 2011: "Survive or Escape?"
Jakarta Biennale XIV 2011 akan kembali hadir akhir tahun ini. "Jakarta Maximum City: 'Survive' or 'Escape'?dipilih sebagai tema besar perhelatan akbar seni rupa dua tahunan itu. Mendukung perhelatan tersebut, Dewan Kesenian Jakarta menurunkan seri tulisan mengenai Jakarta Biennale XIV.
Dinamika kota menjadi inspirasi  para pengamat pilihan kurator Jakarta Biennale 2011; Bambang Asrini Widjanarko, Ilham Khoiri dan Seno Joko Suyono. Dan ‘maximum city’ menjadi pilihan judul.

Tarik menarik yang terjadi antara berbagai kepentingan sosial ekonomi dan budaya menjadikan kota Jakarta menjadi penuh paradoks, pernah dibahas dan menjadi dasar pemikiran bagi Jakarta Biennale XIII, 2009 yang lalu; saat Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) penyelenggara Jakarta Biennale (JB), menganggap situasi Jakarta dapat  dinyatakan sebagai AreNa [1], satu ruang yang menjadi tempat perebutan dan pertarungan berbagai kepentingan.

Namun meski tetap diinspirasikan dari kota, kurator JB XIV melakukan pendekatan yang berbeda, Jakarta ditengarai dengan cirinya yang terus tumbuh menjadi penuh, maximum. Serta sikap penghuninya yang cenderung untuk escape dan survive, untuk melakukan ‘pelarian’ atau ‘berhasil lolos’ dalam dinamika Jakarta.  Kedua kata yang menjadi subjudul, walau berseberangan arti secara harafiah namun bisa diartikan sama bila melihat dengan kritis. Ada ambiguitas dari situasi yang paradoks.

Dari situasi dan gejala ini para kurator; Bambang Asrini Wijanarko, penulis seni rupa, Ilham Khoiri wartawan harian Kompas dan Seno Joko Suyono dari majalah Tempo, menengarai adanya cara cara megekspresikan diri dan berkesenian yang khas dan melalui pendekatan kuratorial akan tampak  bentuk bentuk kerja dan karya seni ini, yang  akan dihadirkan kembali bagi masyarakat luas penghuninya, dari semua kalangan.

The Maximum City: Provokasi Estetika Urban
Di mata para kurator, melalui pengamatan dan studi  Jakarta dianggap sebagai kota yang sesak (the maximum city). Penghuni kota Jakarta saat pulang kantor dikendaraan umum ataupun pribadi, dihunian baik di pusat maupun  4 wilayah kota yang lain tentu tidak banyak bertanya saat mendengar kota yang maximum. Serba penuh dan cenderung tumpah.

Namun berbeda dengan Mumbay [2] kota tempat penamaan maximum city itu berasal. Jakarta meski sama sama tumbuh dan menjadi penuh dan melebihi kapasitas,  memiliki berbagai persoalan yang menyajikan fenomena menarik, terutama karena hadirnya bermacam paradoks yang walau dikotomis tetapi kompromistis. Dalam arti, banyak hal yang sebenarnya bertentangan, tetapi ternyata bisa hidup bersamaan, bahkan berdampingan, di kota ini. Budaya kampung yang bisa berdiri sejajar dengan budaya kota. Warga kaya di gedung mewah hidup bersebelahan dengan kaum miskin di tenda-tenda kumuh pinggir sungai. Budaya modern-rasional berdiri sejajar dengan yang tradisional-mistis. Begitu pula antara semangat komunal dan individual, paham sektarian-fundamentalis dan multikultursalis-liberalis, atau kesumpekan kawasan miskin dan kota-kota mandiri yang ditata nyaman. Kenyataan akan situasi yang dikotomis dan antagonistis, namun  sering hidup berdampingan dan seolah mengambil keuntungan dari situasi yang ada .

Bergelut dengan paradoks Jakarta, niscaya  bakal menemukan cara pandang berbeda tentang kehidupan. Paradoks kerap menghadirkan jurang (disparitas) yang dalam antara satu kutub dengan kutub lain yang bertentangan.

Disparitas yang menunjukkan  ketegangan tetapi sekaligus  dinamika  urban di kota, yang menjadi sumber kajian-kajian seni-budaya, dan inspirasi bagi  para seniman  berkreasi seni. Selain disparitas fisik material yang diisi oleh disparitas budaya yang sesungguhnya kontrovesial, misalnya orang kaya baru dengan budaya kampung dan orang baru (setengah) miskin dengan budaya kota, semua kenyataan kenyataan yang menambah kompleksitas kehidupan. Karenanya sebagai inspirasi, kota (dengan segala paradoksnya) adalah sumber provokasi yang menjanjikan ketidakterdugaan dalam karya seni rupa, terutama seni kontemporer dengan estetika urban.

Kecenderungan kegiatan dan pernyataan seni(rupa) di kota besar seperti Jakarta  di mana  bidang-bidang yang sebelumnya tidaklah dinyatakan sebagai bentuk senirupa (yang unggul), menjadi salah satu ciri.

Tidak urung pada perhelatan kali ini selain karya-karya para seniman, maka karya karya perancang grafis,  pecipta mainan, perancang busana dan disain yang lain menjadi menaraik dan penting ut dihadirkan sebagai karya seni.Hal yang tentunya akan menjadi pertanyaan bagi banyak pecinta seni, namun mungkin tidak demikian bagi masyarakat umum yang telah lama menikmati karya karya popular ini sebagai satu hal yang indah sekaligus bermanfaat.
Cair tetapi tetap tidak menyatunya berbagai unsur yang ada sebagai air dan minyak yang saling mendesak dalam kepadatan kota. Perbedaan antara seni yang dihadirkan diruang publik dan galeri, yang seolah diterima tetapi tidak saat menghadapi pasar. Begitu juga saat membicarakan mana yang lebih ‘jujur’ dan dapat dinyatakan sebagai pernyataan seni, ketegangan kembali terjadi.

Namun diatas segalanya seni rupa urban sendiri kini menjadi tren global. Para seniman yang umumnya hidup di tengah kota, menyerap dinamika serta berbagai masalahnya, dan menyajikannya dalam bahasa visual terkini  berdasarkan khazanah seni rupa yang melingkupinya. Tak terpaku dengan ruang-ruang galeri, seni jenis ini sudah melebar masuk ruang-ruang publik kota sehingga sebagian termasuk seni jalanan (street art).

Seni kemudian punya semangat melebur dalam denyut kehidupan masyarakat. Seni bukan lagi sesuatu yang sudah selesai, tetapi juga sebuah proses. Penyajiannya cenderung lintas media, memadukan teknologi terkini, dan bersifat interaktif. Sebagian seniman bergerak dengan basis komunitas. Dan kehadirnannya bukan semata mata untuk menghadirkan karya seni, tetapi lebih pada pernyataan akan kehadirannya di satu kota sebagai, individu ataupun kelompok. Tidak ada yang ingin dimarjinalkan dikota besar, yang di mana-mana mendengungkan kata be your self atau you are special tetapi sekaligus menghadirkan budaya masa yang menghilangkan satu orang dalam kerumuman masa. Kembali satu paradoks.

Walau  situasi mutakhir Jakarta ada di kota-kota besar lain di Asia Tenggara seperti Manila, Bangkok, Singapura, Ho Chi Minh, Pnom Penh. Namun para kurator menganggap problem kota Jakarta yang sesak ini berbeda dan memiliki ciri khas yang akan menarik untuk direfleksikan dalam perhelatan seni rupa Jakarta Biennale 2011. Setidak tidaknya lahir pertanyaan; apakah ‘Maximum City’ di Jakarta berkonotasi positif atau negatif?

Lima sub Tema
Tentunya Biennale seni rupa, merupakan tolok ukur dari perkembangan seni rupa yang sedang berlangsung. Ia bersifat independen dan mengacu kepada standar kualitas tertentu. Melalui biennale seni rupa, DKJ mencoba memberikan pernyataan kepada publik tentang situasi mutakhir perkembangan seni rupa Indonesia, terutama terkait dengan perkembangan seni rupa dunia. Biennale juga menjadi salah satu cara kita untuk mengenali tren-tren terbaru seni rupa dan pemikiran-pemikiran yang berkembang di sekitarnya.

DKJ telah menyelenggarakan biennale seni rupa sejak 1974 sebagai ajang pameran besar seni rupa dua tahunan. Untuk kali pertama kegiatan Biennale bertajuk “Pameran Senilukis Indonesia”. Kemudian berubah menjadi “Pameran Besar Senilukis Indonesia” (1976, 1978, 1980), lalu menjadi “Pameran Biennale” (1982), dan “Biennale” (1984, 1987, 1989, 1993—1994, 1996, 1998, 2006). Terutama pada 1993-1994, kata “senirupa” sempat menjadi keterangan judul. Sebelum dan sesudahnya memakai kata “senilukis” atau “lukisan”. Sejak 2009 menjadi “Jakarta Biennale”, tanpa embel-embel “pameran” dan “kompetisi” dan mulai berskala internasional—meskipun cikal-bakalnya sudah dimulai sejak Biennale Jakarta XII 2006.

Jakarta Biennale XIV 2011 mengangkat tema besar “Maximum City: Survive or Escape?” Dengan tema ini, kurator  selain memilih karya-karya yang diinspirasikan oleh hal diatas,  mengajak para seniman untuk merespon fenomena ‘sesak’ Kota Jakarta. Sebab di saat yang bersamaan masyarakat Jakarta juga menempuh jalannya sendiri dalam mencoba bertahan atau malah kabur dari semua kesesakan ini. Dari tema besar ini kurator  membagi karya-karya ke dalam lima sub tema, yaitu: Violence and Resistance;  Narcisism, Voyeurism, and Body;  Game, Leisure, and Gadget Victim;  Metro-Text Seductions; dan Citizen and Homo Ludens.

Kelima tema ini dianggap  merupakan problem yang cocok untuk dan telah menjadi bahan refleksi dan ruang saluran bagi potensi-potensi radikal estetika urban. Dari situasi ini para perupa telah dan diharapkan akan menampilkan berbagai karya-karya yang bertumpu pada  kekuatan ide-ide yang subversif  dan juga kekayaan eksplorasi bentuk berbagai medium, dan meluas ke masyarakat.

Violence and Resistance
Refleksi provokatif dan berani fenomena tentang kekerasan dan daya tahan manusia urban. Kehidupan metropolitan yang penuh persaingan dan kompetisi.  Diperlukan stamina yang kuat untuk tinggal di Jakarta. Kemacetan, krisis air bersih, harga perumahan  yang mahal, banjir, demonstrasi harus dihadapi sehari-hari.
  
Di mana-mana juga terjadi ancaman kriminalitas. Kekerasan di Jakarta yang menggelisahkan dan makin variatif bentuknya. Kita lihat mutilasi misalnya—suatu bentuk pembunuhan yang mungkin di dunia barat hanya ada pada zaman lampau,tiba-tiba marak dilakukan di Jakarta beberapa waktu ini.

Tingkat bunuh diri di Jakarta juga meningkat. Mereka yang melakukan itu  meloncat dari mal, apartemen, sampai gantung diri di kamar kontrakan. Angka penembakan di siang bolong hingga aksi intimidatif berbau agama yang juga terhitung tinggi. Kekerasan berupa perubuhan patung-patung yang dianggap tidak senonoh dan penolakan pembangunan rumah-rumah agama oleh oknum-oknum tertentu termasuk di antaranya.

Negara seolah tidak bisa melindungi warganya. Namun warga kota bertahan dan melakukan resistensi dengan caranya sendiri-sendiri.  

Narcisism, Voyeurism, and The Body
Topik ini mencermati fenomena narcisism dan voyeurism di kota besar. Narsisisme bukan hanya fenomena yang terjadi di kalangan artis. Namun sudah menjadi bagian dari psikologi warga Jakarta.

Masing-masing komunitas di Jakarta menampilkan citra tubuh idealnya sendiri-sendiri. Citra-citra tubuh itu disajikan dan dikomoditikan  dengan berbagai cara. Melalui acara-acara gathering yang eksklusif maupun masal, eksibisi di mal-mal dan interaksi maya internet.
Terjadi fenomena mengagumi, memanjakan, memuji, menyayangi, mengkasihani, mengagung-agungkan  tubuh sendiri-sendiri. Ada kecenderungan tubuh yang tadinya sangat personal menjadi dipublikkan. Karakter tubuh menjadi eksibisionis.  Tubuh ditampilkan ke publik  dengan cara sangat erotis terbuka dan berorientasi libidinal  atau sebaliknya justru ditampilkan sangat tertutup seperti yang terjadi di kalangan para jamaah agama.

Tubuh personal beberapa pesohor, katakanlah seperti Luna Maya dan Ariel Peterpan,  oleh kekuatan industri media disodorkan ke publik.  Publik akhirnya  dipaksa menjadi  masyarakat  voyeurism—masyarakat yang mengintip tubuh personal  orang lain.

Para agamawan dan politisi yang seharusnya melakukan pencermatan yang kritis  atas fenomena ini justru ikut larut. Para agamawan justru tidak lagi kuat berada dalam  lingkungan esoterik di mana tubuh yang alamiah, sakral dipertahankan  namun turut tergoda muncul dan menonjolkan diri dalam panggung-panggung televisi bahkan mimbar-mimbar iklan. Apalagi para politikus dan pejabat.

Keinginan untuk menyatakan kehadiran individu dalam kehidupan kota dinyatakan dalam cara cara pemujaan yang khas.

Game, Leisure, and Gadget Victim
Bisa dibilang, Jakarta menjadi tempat sampah bagi berbagai “gadget” dan industri entertainment  dunia.  Jakarta menjadi sasaran empuk uji coba pemasaran, para kapitalis dari Amerika sampai Cina. Produk-produk  berbagai barang life style  asli atau palsu, jasa  hiburan dari segala penjuru dunia tiap harinya menyerbu  kota ini. Anehnya, warga kota-kota ini sangat suka sekali menyerap apapun barang dan jasa ini  tanpa pandang bulu.

Band era 70-an yang di negara asalnya Amerika atau Eropa sudah tak laku sampai band indie mancanegara yang tak dikenal luas pun berdatangan dan laris di sini. Gaya busana terbaru yang sebenarnya tak cocok dengan ukuran tubuh manusia Jakarta pun dikonsumsi  menjadikan ada yang menilai bahwa anak muda kita adalah  korban fashion (fashion victim). Mainan-mainan yang aneh-aneh, boneka-boneka seks dan robot eksprimen  juga makin digemari.  Warga kota-kota ini tak diragukan lagi juga menikmati berbagai  eksprimentasi spa dan karaoke.

Seniman membuat parodi, satir atas fenomena ini atau juga membuat  gadget-gadget atau obyek-obyek eksprimental dari game, boneka, robot dan sebagainya. Di sini, kami mengundang para perupa, seniman toy, seniman game, pematung, dan fashion artist. Mereka bisa memainkan topik dengan semangat penyadaran, asyik bermain, sekaligus tetap kritis.

Mengingatkan kita pada kredo kritik pada konsumerisme Barbara Kruger dulu; ‘I shop there for I am’.

Metro-Text  Seductions
Pada bagian ini kurator secara khusus mengundang para perupa, desainer, sineas independen  merefleksikan berbagai teks karya pengarang kita yang bertema metro-pop. Pasalnya, akhir-akhir ini  banyak para pengarang kita mengolah dunia urban sebagai materi karya mereka. Mereka menghasilkan novel, cerpen, puisi, buku harian, catatan-catatan sampai  naskah teater yang menampilkan tema metro-pop.

Para perupa membuat karya bertolak dari tafsir bebas atas buku-buku  karya: Djenar Mahesa Ayu, Clara Ng, Dewi Lestari, Andrei Aksana, Binhad Nurrohmat, Dinar  Rahayu, Ayu Utami, Bre Redana, Ugoran Prasad, Eka Kurniawan dan sebagainya. Mereka semua adalah para pengarang yang bergelut dengan dunia urban. Para perupa bebas menafsirkan karya seorang penulis. Melalui karya Djenar Maesa Ayu, perupa dapat menafsirkan kumpulan tulisannya yang berjudul: 1 Perempuan 14 Laki-laki. Melalui karya novel Andrei Aksana yang berjudul: Janda-Janda Kosmpolitan, begitu pula karya novel Clara Ng yang berjudul: Barbie, kumpulan puisinya Binhad Nurrokmat:  Kuda Ranjang, atau dari kumpulan cerpennya Bre Redana: Urban Sensation.

Bisa juga bertolak dari cerpen dan novel kita tahun 70-an yang temanya berlatar kota, misalnya novel Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha, atau novel-novel erotis Motinggo Busje atau cerpen Umar Kayam: Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Khusus naskah teater yang akan kami tawarkan di antara lain: Opera Kecoa karya Riantiarno (Bercerita tentang para waria ibu kota), Opera Ikan Asin karya Riantiarno (Bercerita tentang para preman ibu kota), Dor karya Putu Wijaya (bercerita tentang busuknya dunia peradilan), Republik Reptil karya Radhar Panca Dahana (bercerita tentang korupsi dan suap di kepolisian.

Para perupa lah yang kemudian memilih novel, cerpen atau naskah teater (yang telah diterbitkan) dari pengarang Indonesia mana pun, dengan catatan bahwa karya tersebut berkaitan dengan problem dunia urban. Pilihan dan tafsir itu tetap dilandasi semangat yang bebas dan kritis, termasuk merekam berbagai resposn masysrakat atas kesesakan kota dan berbagai problemnya.

Interpretasi dari interpretasi tentang Kota.

Citizen and Homo Ludens
Berbeda dengan karya-karya yang ditampilkan di atas, karya-karya di tempat publik adalah hasil kerja sama perupa dengan komunitas-komunitas yang ada di Jakarta.

Sekitar 20 lokasi publik yang direncanakan untuk menjadi ajang perhelatan ini. Di antaranya adalah taman-taman kota, kampung (2), areal klenteng (1), stasiun(2), antar stasiun (1), ruas jalan (3), Monas, sungai (1), titik jembatan layang (3), dan titik di Jakarta untuk Punch Line (3). Di sana para perupa akan menghasilkan karya-karya yang sifatnya penuh dengan permainan dan  partisipatif.

Karya berangkat dari riset atau kerjasama para perupa dengan  komunitas-komunitas  hobi seperti komunitas lomografi, komunitas sketsa. Atau dengan warga yang ada di lokasi.

Tema Citizen and Homo Ludens merespon kenyataan bahwa warga jarang sekali dilibatkan dalam perkembangan kota. Mereka nyaris menjadi obyek atas proyek-proyek kota, baik ekonomi, sosial politik, maupun budaya. Dengan mengangkat topic ini, kami berharap bisa mengajak masyarakat untuk memiliki ruang kotanya sendiri, bermain di dalamnya, menentukan apa yang sebaiknya hadir atau dihilangkan dari pemandangan di kotanya sendiri. Masyarakat didorong menjadi subyek dalam ruang kotanya, terutama lewat ekspresi karya seni rupa.

Kesertaaan masyarakat dalam terjadinya satu karya seni.

Bila dilihat sepintas, lima sub-tema ini cenderung berkononotasi pesimis atau negatif, namun bagaimana pun upaya-upaya untuk tetap bertahan, hadir, dan bekerja di kota besar Jakarta adalah satu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Para kurator mengawali dengan sikap yang kritis pada satu kenyataan akan ‘sesak’nya Jakarta (atau kota besar mananpun di dunia) yang terus menerus tumbuh dan dengan alih-alih sesak dan meledak ia seolah melahirkan ruang-ruang baru yang nyata ataupun maya. Dalam sesak berusaha  menghidupi dirinya sendiri; berbagai usaha lahir dalam kepadatan, kreativitas tumbuh dalam berbagai manifestasi, malah seolah kesesakkan ini menjadi pemicu kreativitas dalam segala bidang, positif maupun negatif. Tentu inilah yang menjadi pertanyaan serta harapan dari dan untuk semua penghuni kota besar. Sampaimana dan bagaimana ia dapat terus ‘tumbuh’ dengan konotasi yang  positif?

Kota dan Internasional
Selain menghadirkan perupa, seniman nasional (di bawah usia 40 tahun), para kurator juga menghadirkan para perupa internasional (berbagai usia), ini disebabkan agar masyarakat dapat melihat karya-karya perupa yang memang tengah menjadi penting dalam perkembangan senirupa internasional belakangan ini.

Keterlibatan mereka tak pelak berkat dukungan berbagai institusi kebudayaan dan perwakilan asing yang ada di Jakarta, Indonesia maupun tidak.
Namun bagaimana pun implementasi serta keberhasilan rencana perhelatan ini, tentunya selain dari kepiawaian para kurator, juga berasal dari dukungan dan kesertaan dari berbagai pihak dan pemangku.
Sebuah perhelatan senirupa seperti ini, memang telah menjadi bagian dari kegiatan kota (pemerintah kota dan jajarannya) di kota-kota besar di perbagai negeri dalam mengajak masyarakatnya untuk  merayakan kotanya sendiri sekaligus berkaca dan mengkritisi diri serta berkontemplasi melalui tontonan dan kegiatan seni budaya serta upaya memperkenalkan kota itu sendiri untuk berbagai kepentingan termasuk pariwisata.

Jakarta Biennale, dengan promoter utama Dewan kesenian Jakarta adalah bagian dari Pemerintah Daerah DKI cq. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Maka dari itu selain acara ini sebagai bentuk perayaan dan kritik (melalui kesenian), tetapi juga merupakan upaya kota Jakarta menjadi bagian dari jajaran kota-kota budaya serta kesenian kontemporer di dunia.

[1] Ade Darmawan, Firman Ichsan dan Abduh Azis dari DKJ serta Irwan (Iwang) mengembangkan judul Area menuju AreNa, dari  judul awal The Fluid Zone, tema dari kurator utama JB XIII, Agung Hujatnika Jenong.
[2] Sukethu Mehta, penulis Ameika asal India menulis tentang kota kelahirannya,setelah lama ttinggal di AS dating ke Mumbay, dan melihat serta menuliskan Mumbay mengacu pada ingatannya dimasa kecil, ia member sub judul lost and found.


Firman Ichsan,
Ketua Dewan Kesenian Jakarta